Sajadah. Barang yang hanya berupa lembaran kain dengan
berbagai motif dan bahan itu begitu menyita pikiran Husna. Terutama ketika
hendak pergi tarawih. Bagi kebanyakan orang sajadah adalah sebuah kemestian
ketika hendak melakukan sholat. Entahlah, rasanya kurang lengkap kalau sholat,
apalagi di masjid tanpa menggunakan sajadah. Padahal sebagian masjid telah
menyeddiakan karpet yang bagus dan mahal. Tapi tetap saja sajadah seolah
menjadi kebutuhan tersendiri. Entah sekedar trend atau apalah.
Husna tidak menyalahkan. Memang sajadah adakalanya sangat
membantu Husna ketika sholat maupun saat setrika karena bisa dijadikan alas.
Tetapi kali ini Husna memang harus berpikir puluhan kali ketika akan
menyertakan sajadah untuk tarawih di masjid dekat tempat kosnya. Kebiasaan
barunya ini cukup menjengkelkan teman kosnya. Ke masjid selalu terlambat.
Tepatnya seminggu setelah Ramadhan lewat.
“Husnaa.aa! Cepetan, ntar telat lagi, lho.” Teriak Nina dari
luar kamar. Tak ada jawaban.
Klek! Pintu kamar terbuka dan wajah bulat Nina menyembul
dengan balutan mukena dari balik pintu.
“Lagi ngapain, sih. Cepet! Ntar nggak dapat tempat lagi baru
tahu rasa.” Husna menoleh sekilas. Pandangannya kembali tertuju pada sajadah
biru yang terlipat rapi di tepi dipan. Membawanya berarti menyertakan beban
berat berton-ton ke masjid. Tapi kalaupun ditinggal bukan berarti masalah akan
selesai.
“Bawa…enggak…bawa…..enggak…bawa…” Husna menghitung kancing
bajunya dengan serius.
“Kamu tuh mau tarawih apa enggak, sih? Ato mau berangkat
sendiri?”
“Sebentar, dong.Lagi pusing, nih. Cerewet amat.”
“Pusing kok dipiara. Sampai kapan kamu akan diperbudak oleh
sajadah itu?” Potong Nina tandas.
“Enak aja. Masa aku budaknya sajadah.” Tangan Husna langsung
menyematkan mukena ke kepalanya.
‘Terus apa namanya? Kalau tiap hari selalu pusing dan jutek
gara-gara sajadah. Aku bener-bener nggak ngerti dengan sikapmu yang aneh itu.
Padahal kalau di rumah kamu nggak pernah mempermasalahkan sajadah. Giliran
kemasjid bikin rebut serumah.”
Husna ragu-ragu menyentuh sajadahnya. Saat jemarinya hampir
menyentuh bahan beludru itu, buru-buru ia menariknya. Nina berdecak sebal.
“Ya Allah, Husna. Kalau mau bawa ya bawa. Kalau enggak, ya
enggak. Pusing amat!” Husna hanya membisu. “Udahlah aku berangkat duluan aja.
Daripada menyaksikan orang yang sajadahphobinya kumat.”
“Kalau kamu berangkat duluan, aku akan tarawih sendiri aja
di rumah.”
“Eh, masa gara-gara sajadah sampai nggak ke masjid. Ingat
setelah tarawih nanti ada pertemuan Remas untuk membahas rencana rihlah adek-adek
TPA.” Nina memperhatikan tetangga kamarnya dengan seksama. Wajah Husna
benar-benar tampak bingung. Dengan sabar yang dipaksakan, akhirnya Nina
menjajarinya di dipan. Ia tak lagi peduli dengan jarum jam yang terus bergerak
kearah angka tujuh.
“Sebenarnya ada sih?” Husna menatap mata Nina sesaat.
Kepalanya lurus lagi.
“Aku, malu.”
“Malu? Malu dengan siapa? Dan kenapa? Tumben kamu yang
biasanya cuek bisa malu. Lebih sering kamu itu bersikap yang malu-maluin.”
“Aku serius, Nin!”
“Oke, oke. Tapi kenapa?”
“Yang pasti aku malu gara-gara sajadah itu.”
“Kamu nggak pede karena modelnya?” Husna menggeleng cepat.
“Modelnya kan sama kaya punyamu.”
“Atau baunya nggak enak karena lama nggak dicuci?” Nina
bertanya tanpa ekspresi.
“Nih, cium. Wangi, kan?”
“Trus?” Husna mematung. Ia menimbang-nimbang. Ia yakin kalau
Nina tahu pasti rekasinya menyebalkan. Dan Husna akan menjadi gossip nasional
di tempat kosnya.
“Jangan-jangan itu sajadah curian dan ketahuan oleh
pemiliknya.” Sontak Husna menoleh.
“Enak aja! Emang aku keturunan maling.” Mata Husna melotot
galak.
“Atau jangan-jangan uang yang kamu pakai untuk membeli
adalah hasil korupsi.” Mimik Nina dibuat seolah-olah serius.
“Heh, mikir dong kalau ngomong. Mana ada orang korupsi buat
beli sajadah? Emangnya Allah bisa disuap dengan sajadah? Yang ada, korupsi buat
beli rumah, mobil mewah dan jalan-jalan keluar negeri.”
“Yaa, kali aja ini lain.”
“Sudahlah, lama-lama kamu ngaco ngomongnya. Memang sebaiknya
aku tarawih di rumah aja.”
“Eh, ingat tujuan kita. Kemarin kita bersepakat bahwa akan
tarawih di masjid. Bukan hanya itu, kita pun tidak boleh mengambil tempat di
shaf yang sama. Agar kita bisa membaur dengan remaja dan ibu-ibu yang lain.
Katanya ingin membuat forum kajian untuk remaja dan ibu-ibu. Belum-belum sudah
mutung. Kapan berhasil dakwah kita kalau seperti ini?”
Husna tersenyum dalam hati melihat Nina berkata sebijak itu.
Dalam hati ia senang punya teman yang ceria dan baik seperti Nina. Meskipun
sering iseng dan jail.
“Katanya kita ini sodara. Kalau ada masalah kan harus
dipecahkan bersama. Apalagi kalu ternyata masalahnya bisa menghambat tujuan
mulia kita.”
“Baiklah, tapi kamu harus berjanji satu hal.”
“Oke.”
“Kamu harus serius.” Nina mengangguk mantap.
* * * * * *
Awalnya Husna begitu senang membawa sajadah birunya ke
masjid untuk sholat tarawih. Itu memang sajadah kesayangannya karena ia membeli
dari hasil tabungannya saat SMU. Ia pun berharap sajadahnya bisa membawa berkah
di awal bulan suci ini. Siapa tahu ada orang yang juga membutuhkan alas sholat.
Kalau hal itu terjadi peluang mendapat pahala semakin banyak. Dan ternyata
impiannya tidak percuma.
“Terimaksih, Dek. Tadi saya buru-buru ke masjid. Jadi lupa
nggak bawa sajadah.” Seorang ibu setengah baya tersenyum ramah ketika membagi
sajadah dengannya. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama. Saat sholat
mulai tampaklah sebuah permasalahan yang bagi Husna tidak bisa diremehkan. Shof
sholat tidak rapat. Padahal Umar bin Khottob pernah merapikan shof dengan
pedangnya karena begitu pentingnya shof yang rapat dan lurus agar tidak ada
celah bagi syetan untuk engganggu selama solat.
Husna meyakini bahwa penyebab utama dari fenomena yang ada
di depannya bisa jadi karena mereka tidak tahu betapa pentingnya shaf sholat
yang rapat dan rapi. Dan kondisi itu diperparah dengan sajadah. Para jamaah
sholat lebih memilih posisi di tengah sajadah masing-masing. Mereka tidak
peduli sisa tempat yang akibat sajadah yangyang mereka bawa. Bahkan ada
beberapa orang yang tanpa beban meletakkan sajadahnya sehasta di sebelah
sajadah lainnya. Padahal kalau mau, tempat itu masih bisa diisi satu orang
lagi. Tapi entahlah, sepertinya telah menjadi sebuah kesepakatan jika kesalahan
dilakukan bersama maka statusnya kan berubah menjadi benar.
Sebenarnya sang imam selalu mengingatkan agar merapatkan dan
meluruskan shaf sebelum sholat. Api seruan imam itu seperti angin yang berlalu
begitu saja. Buktinya setiap hari kondisinya selalu sama. Dan Husna bertekad
akan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan yang ada. Baginya ini adalah peluang
amal yang harus dimanfaatkan.
* * * * * *
Husna membalas tatapan sinis seorang ibu muda denngan senyum
termanisnya. Ibu muda itu kelihatan dari orang yang cukup berada. Mukenanya
jelas tergolong mahal, tapi sayang wajahnya tidak ramah. Kalau saja ia mau
tersenyum sedikit saja, pasti kelihatan cantik. Mersa senyumnya tak berbalas,
Husna mersa jengah juga dipandangi seperti itu.
“Ehm…, maaf, tante. Apa ada yang salah dengan saya?” Husna
bertanya dengan hati-hati. Suaranya dibuat sepelan mungkin agar tidak
mengganggu yang lain.
“Lho, nggak nyadar juga. Tampangnya, sih mahasiswa. Ternyata
nggak tahu sopan santun.! Jawabnya pedas. Meskipun suara si Tante pelan tapi
cukup membuat wajah-wajah di sekitarnya menoleh kearah mereka.
“Kenapa Anda nempel-nempel dekat saya? Seenaknya saja
menumpuki sajadah saya dengan sajadah murahan! Ini sajadah mahal, saya beli di
Arab waktu haji. Harganya mahal tau. Emang kalau lecek mau ngganti?” Muka Husna
seperti disiram lahar gunung merapi yang baru meletus. Wajahnya memerah seperti
tomat yang masak. Telinganya memanas, begitu pula matanya. Matanya segera
terpaku pada sajadah biru yang menutupi sebagian sajadah si Tante. Dia
melakukan semua itu karena ingin shaf shalat menjadi rapat. Apalagi posisinya
yang ada di ujung paling kiri barisan membuatnya harus mendekat ke arah kanan.
Tapi Husna benar-benar tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.
Dengan cepat si Tante berdiri dan menyambar sajadah
mahalnya. Ia bergegas ke barisan belakang meninggalkan Husna dalam sorotan mata
dengan berjuta ekspresi. Ada ekspresi simpati karena kasihan, ekspresi gemes
dan gregetan, ekspresi geli karena menahan tawa sampai yang cuek seolah tak
terjadi apa-apa. Husna tidak lagi peduli dengan tatapan mata yang tertuju
kepadanya. Yang ia rasakan cuma satu : malu.
* * * * *
Husna mulai berhati-hati bersikap karena tak semua niat baik
berbuntut manis. Kali lain ia duduk di sebelah seorang gadis sebayanya. Sajadah
gadis itu cukup lebar hampir separo sajadahnya. Setelah meminta ijin, Husna
meletakan sajadahnya di bawah sajadah merah si Gadis. Husna menjelaskan alas an
sikapnya pada si Gadis. Sambutan si gadis sangat baik terutama ketika Husna
emnjelaskan tentang pentingnya shaf sholat yang rapid dan rapat. Tapi sambutan
hangat itu segera lenyap ketika seorang nenek menghampiri mereka.
“Neng, kenapa sajdah saya dipake? Nenek itu baru belajar
sholat dan harus pake sajadah biar nggak kedinginan. Masa baru ditinggal wudhu
sebentar sajadah sudah lenyap. Di bulan suci begini kok ya masih sempat ngembat
barang orang.”
Husna berusaha tersenyum dengan tuduhan yang dialamatkan
kepadanya.
“Maaf, Nek saya dari tadi di sini. Dan ini sajadah saya.
Mungkin Nenek lupa menaruh sajadah nenek. “ Husna menjaga kalimatnya dengan
hati-hati. Gadis di sebelahnya meliriknya curiga.
“Kalau itu memang sajadah Neng, kenapa mesti disembunyikan
di bawah sajadahnya?” tangan si Nenek menunjuk sajadahnya yang tertutup oleh
sajadah si Gadis. Tiba-tiba si Gadis berdiri.
“Maaf, Mbak. Saya nggak mau sajadah saya dijadikan tempat
menyembunyikan barang curian.” Husna ingin menjelaskan lebih jauh tapi si Gadis
terlanjur pergi.
* * * * *
Tawa Nina hampir meledak. Ia tutup mulutnya agar tidak
bersuara karena teringat pesan Husna. Setelah berhasil menguasai diri ia mulai
bersuara .
“Kok nasibmu sial banget. Trus, si Nenek gimana?”
“Pas si Gadis pergi si Nenek baru sadar bahwa sajadahku
memang berbeda, hanya mirip saja. Dia baru ingat bahwa sajadahnya dititipkan ke
cucunya.”
“Ya udah mending nggak usah bawa saja.”
“Sudah kucoba kemarin.”
“Trus hasilnya?”
“Aku harus mencuci mukenaku kemarin.”
“Apa hubungannya?”
“Kemarin aku kan telat, terpaksa sholat di teras yang basah
karena hujan. Dan tidak ada seorang pun yang membagi sajadahnya untukku.” Nina
mendengus prihatin sekaligus salut dengan upaya keras Husna untuk mengubah
budaya shaf yang tidak rapat.
“Ya, sudah. Kesepakatan untuk berpencar selama tarawih kita
cabut saja dulu. Untuk shaf yang rapat sepertinya kita harus memberi contoh.”
“Maksudnya?”
“Kita sholat besebalahan saja. Biar orang-orang melihat
kelurusan dan kerapian shaf kita. Sekalian kita mencoba memahamkan tentang
pentingnya shaf yang rapat dan lurus.”
“Sepertinya itu ide yang bagus. Tapi sekarang aku bawa
sajadah nggak?”
“Aduu…uh! Sajadah lagi, sajadah lagi. Nggak usah bawa aja
dulu. Ntar bermasalah lagi.”
Berdua, mereka segera bergegas ke Masjid As Syuhada.. Sampai
di masjid, suasana begitu lengang. Sholat isya telah dimulai. Mereka segera
mencari tempat. Tapi sayang, tidak ada tempat yang bisa dipakai dua orang
sekaligus.
“Sudah, kamu di sini aja. Aku akan mencari tempat lain. Ntar
keburu habis sholat isya’nya. Sepertinya ini raka’at terakhir.”
“Tapi kamu kan, nggak bawa sajadah.”
“Nggak apa-apa. Hari ini kan, tidak hujan jadi lantainya
nggak basah.” Setelah bersusah payah alhirnya Husna menemukan tempat yang
berada di sela-sela shaf. Sekilas Husna melirik ke kir, dan dia agak terkejut
ketika mengetahui bahwa orang yang di sebelahnya adalah nenek yang menudunhnya
mencuri beberapa hari lalu. Sebenarnya Husna ingin mencari tempat lain. Tapi
selain susah, juga akn menyita banyak waktu. Husna hampir saja melakukan
takbiratul ikrom ketika si Nenek menoleh dan tersenyum ke arahnya. Belum hlang
rasa kagetnya, si Nenek malah membungkuk dan mengambil sajadahnya. Si Nenek
berbagi sajadah dengannya. Reflek Husna menolak.
“Lho, Nek nggak usah.” Spontan Husna bicara pada Nenek yang
seharusnya masih sholat.
“Nggak apa-apa. Maaf ya, kejadian kemarin.” Dengan santai si
Nenek melanjutkan sholatnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tinggal Husna yang
kebingungan dengan semua yang terjadi.
Ah, kalau saja aku tadi membawa sajadah pasti pasti Nenek
tidak perlu berubuat begitu. Pe-er shaf belum selesai sudah ditambah pe-er
Nenek yang harus diajari tentang tata cara sholat yang benar. Semoga ini adalah
lading amal baru yang bisa menjadi pendulang pahala.
Sumber : Istana Cerpen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar